Artikel

Bekerja

2 min read

Malam ini saya menulis konten di beberapa website serambi mendengarkan dan melihat video acak dari Youtube seperti biasanya. Salah satu video yang terputar malam ini adalah cerita dari Cak Nun, atau Emha Aninun Nadjib tentang cara mengatasi kemalasan yang sangat menggerogoti diri.

Beliau menceritakan tentang cara dari santri maupun kyai di desa untuk mengatasi kemalasan dalam diri. Kemalasan yang menarik diri untuk tidak maju atau tidak mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bisa segera kita kerjakan. Cara tersebut adalah menggunakan dorongan sugestif, yang disebut wirid. Wirid yang dipakai adalah Yaa Fa’aal. Yang diartikan sebagai Allah adalah dzat yang Maha Bekerja. 

Dalam cerita tersebut Caknun juga menyampaikan sebuah kalimat “Barang siapa ingin bertemu dan bertatapan wajah dengan-Ku (Allah) maka bekerjalah.” Dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang coba saya cari dan berkaitan dengan hal ini adalah Qs. Al Insyiqaq (84).

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. 84: 6)

Caknun menambahkan, dalam penjelasannya bahwa beliaupun adalah pekerja. Dan beliau sangat menikmati pekerjaannya dalam menulis, tetapi tidak pernah terbersit akan honor yang nantinya akan didapatkannya. Yang dimaksud disini adalah bukan kita bekerja tanpa mau dibayar. Akan tetapi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh dengan bahagia karena Allah. Dan Allah akan menjamin atas rezeki kita. Hal inilah yang jarang sekali terpikirkan oleh orang pada umumnya. Karena pola pikir bahwa kita bekerja adalah untuk mencari uang, bukan karena Allah.

Saya sangat dangkal dalam pengetahuan agama, dan belum paham dengan apa itu wirid dan manfaatnya. Namun, dengan mendengar cerita dari Caknun tersebut, saya mulai memahami arti dari ‘bekerja’ dalam sudut pandang yang berbeda. Bahkan saya berpikir, jika memang kita dapat menikmati dan bahagia dalam bekerja, sepertinya rasa malas atau menunda pekerjaan yang menjadi poin masalah dalam cerita tersebut dapat terselesaikan. 

Sebuah rutinitas, yang sebagian besar waktu kita di dunia akan habis didalamnya. Semoga kita tidak salah dalam menanamkan niat dalam hati, dalam menjalani apa yang kita sebut dengan ‘bekerja’.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×